Kepincut Busana Muslim, Istri Pangeran Edward Puji Wanita Berhijab

Kini wanita muslim di dunia sudah lebih bebas di mana pun mereka berada. Cara setiap wanita mengaplikasikan jilbab pun berbeda-beda, ada yang masih senang tampil modis dengan beragam padu padan busana, ada pula yang menutup seluruh auratnya termasuk mengenakan cadar.

Seiring perkembangan fashion muslim yang semakin pesat, beberapa desainer dunia juga merilis busana sopan atau dikenal dengan sebutan modest dressing. Bahkan sebagian perancang juga mengagumi busana muslim kemudian merilis koleksi Ramadan seperti DKNY yang meluncurkan rangkaian abaya untuk wanita muslim di Timur Tengah pada Juli 2014 lalu.

Tak hanya desainer yang kepincut busana muslim, Istri Pangeran Edward, The Countess of Wessex, Sophie juga mengaguminya. Wanita yang menikah dengan putra bungsu Ratu Elizabeth itu mengaku menyukai busana muslim dan mendukung wanita muslim di seluruh dunia untuk tetap mengenakan jilbab ketika berpergian.

Bahkan Sophie juga memberikan pujian kepada para hijabers. Ia mengatakan bahwa perempuan muslim terlihat sederhana tapi tetap stylish walaupun mengenakan burqa. Mereka yang mengenakan burqa sebenarnya tidak ingin memperlihatkan pakaian modisnya untuk publik.

“Ini jelas kalau perempuan muslim terlihat modis dengan burqa tapi mereka hanya tidak ingin memperlihatkannya. Di balik burqanya mereka tetap tampil stylish,” tutur Sophie dalam wawancara dengan Harper’s Bazaar Inggris.

Sophie sudah mengagumi busana muslim sejak lama. Ketika hadir di acara Islamic Fashion Festival 2012 di The Natural History Museum, London, ia mengatakan bahwa busana muslim sangat menarik dan bagus.

Oleh sebab itu, Sophie memberikan dukungan moril kepada para hijabers di dunia agar tidak takut lagi untuk berjilbab di tempat umum.

Jika Rasa Malu Hilang Pada Wanita

Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambahnya karena ketaatan dan berkurangnya karena kemaksiatan. Semakin banyak seseorang melakukan ketaatan maka semakin bertambah pula keimanannya. Ketika keimanan seseorang semakin bertambah maka ia akan mendapatkan banyak kebaikan.

Tak sedikit wanita di masa sekarang ini yang telah menanggalkan rasa malunya dari cara dia berbusana, bergaul, dan bergaya hidup modern lainnya inilah gambaran fenomena kehidupan saat ini.”

Sifat malu itu adalah bagian dan akhlak mulia, bahkan merupakan cabang dari keimanan. Sifat malu memang identik dengan wanita karena merekalah yang dominan memilikinya. Namun sifat malu tidak mutlak milik kaum hawa, laki-laki pun memilikinya. Adanya sifat malu pada diri seseorang akan mendorongnya kepada kebaikan dan mencegahnya kepada kejahatan. Bila rasa malu itu telah hilang, ia akan jatuh dalam perbuatan maksiat dan dosa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Termasuk yang diperoleh manusia dari ucapan kenabiannya yang pertama adalah: jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu”. (HR. Bukhari)

Merebaknya kejahatan seksual kian memprihatinkan. Namun sedikit yang menyadari bahwa semua itu bersumber dari tersebarnya kerusakan sebagai akibat dari diumbarnya aurat wanita di tempat-tempat umum. Bocah yang masih ingusan/bahkan kakek yang tua renta pun bisa menjadi pelaku kejahatan karena mereka secara terus menerus disuguhi pemandangan yang bukan haknya ironisnya sebagian kor-ban adalah anak perempuan dibawah umur.

Sebagian orangtua seoleh begitu leluasa membiarkan putra-putri mereka bercampur baur dengan laki-laki baik di sekolah, di rumah, atau di tempat lainnya. Mereka membiarkan anak gadis mereka pergi keluar rumah sendirian tanpa ditemani siapapun. Demikian kenyataan ini benar-benar terjadi.

Bila rasa malu telah hilang dari seorang insan, ia akan melangkah dari satu kejelekan kepada hal yang lebih jelek lagi. Dan satu kerendahan kepada hal yang lebih jelek lagi. Dari satu kerendahan kepada hal yang lebih rendah lagi.

Sungguh wajib bagi kita untuk terus merasakan pengasan Allah dan malu kepada-Nya di setiap waktu dan tempat seseorang yang jujur dalam keimanannya akan merasa malu kepada Allah jika melanggar kehormatan orang lain dan mengambil hak orang lain. Sedangkan orang yang telah dicabut rasa malu dari wajahnya, ia akan berani melanggar larangan Allah. Nauudzu billah.

Bila kita telah mengetahui pentingnya sifat malu, maka berupayalah untuk menumbuhkannya didalam keluarga. Karena ketika rasa malu itu maish ada, kebaikan akan senantiasa mereka agungkan.

Agama Islam datang dengan memberikan kemuliaan kepada wanita, memelihara dan menjaganya dari terkaman serigala dari kalangan manusia, sebagaimana Islam menjaga hak-hak wanita, mengangkat hakikat dan martabatnya.

Islam mewajibkan bagi wanita untuk menghijabi (menutup) dirinya dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya agar ia tidak menjadi barang dagangan murahan yang bisa dinikmati setiap orang kapanpun dan dimanapun. Allah Subhanahu Wa Taala berfirman:

“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka serta jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya (tidak mungkin di tutupi)”. (QS. An Nur: 30)

Pada zaman sekarang ini, banyak wanita yang mengaku seorang muslimah akan tetapi dengan ikhlas menjual kehormatannya. Dan tidak sedikit wanita muslimah yang tidak segan-segan mereka terjun dalam dunia musik dan acting. Mereka begitu bebas berinteraksi dengan orang lain tanpa menghiraukan keberadaan sang suami. Maka jangan heran jika kehidupan rumah tangga mereka tidak berjalan sesuai harapan.

Oleh karena itu, tidak sepantasnya bagi wanita muslimah untuk melakukan hal-hal seperti itu, karena tidak akan memberikan manfaat baik bagi dirinya ataupun orang lain.

Alangkah baik bagi seorang wanita muslimah untuk tidak banyak keluar rumah kecuali memang terdapat keperluan yang penting. Itupun mereka apabila keluar harus menutup aurat agar terhindar dari berbagai fitnah. Namun apabila tidak ada keperluan, sebaiknya seorang wanita muslimah tinggal di rumah. Dengan begitu, dia akan lebih terjaga kehormatannya. Sebagaimana Allah berfirman:

“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan jangan bertabarruj (berhias) seabgaimana tabarruj orang-orang jahiliyyah yang dahulu”. (QS. Al Ahzab:33). Wallahu alam.

Kosmetik yang Paling Mempercantik

Perusahaan yang saya pimpin, salah satunya menjual kos­metik. Untuk alasan itulah, harus mengalokasikan banyak waktu untuk menyerap aspirasi pasar tentang kecantikan wanita. Salah satu focus group discussion yang dilakukan perusahaan riset, saya bahkan menyempatkan diri untuk mendengarkan mereka selama berjam-jam. Bahkan, isteri dan puteri saya sendiri pun jadi subyek pengamatan saya.

Semakin didalami aspirasi wanita tentang kecantikan, semakin banyak saya bertemu dengan manusia yang ber­tumpu pada sumber-sumber kecantikan yang datang dari luar. Banyaknya uang yang dikeluarkan untuk membeli kos­metik, tidak sedikitnya dana yang mengalir di salon-salon perawatan kecantikan, hanyalah sebagian bukti hal ini.

Serupa dengan kecantikan, kesuksesan dan kebahagiaan juga cenderung dicari dari sumber-sumber luar. Lihat, ada banyak orang yang mengejar harta dan tahta. Tidak sedikit yang membayarnya dengan harga yang sangat mahal. Di sebuah kesempatan presentasi di depan ratusan karyawan- karyawati sebuah perusahaan farmasi, saya pernah bertutur tentang pentingnya memperbaiki diri, dibandingkan dengan mengejar kesuksesan. Dan, marahlah sejumlah orang. Terutama, karena sangat yakin bahwa sukses harus dikejar. Tidak bisa ditunggu hanya dengan memperbaiki diri sendiri.

Tanpa bermaksud memonopoli kebenaran, dan sadar bahwa kebenaran itu tidak tunggal, izinkan saya berbagi kejernihan tentang inner sources of joy. Sejenis kebahagiaan dan kecantikan yang bersumber dari dalam.

Coba tanya diri Anda sendiri, berapa lama Anda merasa bahagia setelah naik gaji, membeli mobil baru, dan diberi hadiah rumah? Sangat terbatas bukan? Tidak hanya gaji, mobil dan rumah. Semua kebahagiaan dan kecantikan yang datang dari luar, terbentang dalam batas waktu yang terbatas. Di samping terbatas waktunya, ia juga ditandai oleh siklus naik turun tiada henti. Ketika ia datang, naiklah siklus-nya. Tatkala ia hilang, turunlah siklusnya. Sebagai akibatnya, kita kehilangan banyak energi untuk naik turun.

Agak berbeda dengan external sources of joy, internal sources of joy menoleh ke sini, ke dalam diri kita sendiri. Ke dalam pengertian kita, kualitas rasa syukur kita dan jarak yang kita sisakan antara aku dan ’aku’. Mirip dengan kegiatan saya menulis, tujuan utamanya tidak mengajari Anda, tetapi lebih ditujukan untuk mendidik diri saya sendiri. Serupa dengan kegiatan belajar dan membaca, ujung-ujungnya kita menemukan diri kita sendiri.

Dengan kata lain, kalau external sources of joy meng­undang kita untuk mengejar kecantikan dan kesuksesan, internal sources of joy mengajak kita untuk duduk rapi penuh refleksi. Yang pertama mencarinya di sumber-sumber luar yang berlari. Yang kedua menelusurinya di dalam diri yang tersembunyi.

Anda boleh dan sah-sah saja kalau mencarinya di luar. Namun, saya telah lama berhenti mencarinya. Terutama, karena sudah lelah berkejaran dengan bayangan sendiri. Modal awalnya, membersihkan kaca mata yang bernama pengertian. Sukses, cantik dan bahagia sebenarnya serangkaian pengertian. Sejenis judul yang kita berikan pada kejadian-kejadian yang lewat di depan kita. Kejadian berupa menerima gaji seratus ribu rupiah, bisa menghadirkan pengertian bersyukur, bisa juga menghadirkan pengertian menghina. Sejenis kaca mata yang telah lama kita kenakan Ia bisa dibuka, diganti dan dibersihkan.

Mereka yang ingin ikut dengan saya di sektor inner sources of joy, sebaiknya rajin membersihkan kaca mati Membaca, menghadiri seminar, merenung, melakukan kerja sosial, melayat, menjenguk ke rumah sakit, hanyalah seba­gian kegiatan yang bisa membersihkan kaca mata penger­tian.

Sahabat saya yang merasa mukanya tidak cantik, berubah pengertiannya setelah sering bertemu orang-orang yang fisiknya tidak utuh. Di rumah sakit yang penuh orang menderita, kita disadarkan betapa indah dan nikmatnya sehat. Di tempat melayat, kita dihadirkan pada pengertian siapa pun akan dipanggil kematian.

Dalam bingkai seperti ini, saya mengagumi Citibank dan General Electric yang mengirim staf-staf seniornya untuk melakukan kerja sosial. Ada yang disuruh mengajar di tempat kumuh. Ada yang disuruh melayani panti jompo. Lebih dari sekadar aktivitas hubungan masyarakat, ia juga meng­hadirkan pengertian-pengertian yang lebih kaya tentang kesuksesan, kebahagiaan dan kecantikan.

Dengan risiko produk kosmetik perusahaan saya tidak laku terjual, saya meyakini bahwa mensyukuri kehidupan dan merasa bahagia adalah ’kosmetika’ yang paling mungkin membuat orang tampil cantik dan simpatik. Mirip dengan apa yang pernah dikemukakan Hellen Keller, ’keba­hagiaan tidak bisa datang dari luar, ia berasal dari dalam’.

Dan yang berasal dari dalam, diserahkan kepada kita apakah mau menggunakan pengertian bahagia dan syukur, atau mau menggunakan pengertian berkejaran tiada henti. Keduanya bebas untuk dipilih. Keduanya juga memiliki pengikut yang sama banyaknya. Ada yang bahagia dengan bungkus rasa syukur, ada juga yang mengaku hidup tertan­tang dengan pencaharian tiada henti. Hidup Anda memang pilihan Anda. Sama dengan saya yang memilih rasa syukur sebagai kosmetika yang paling mempercantik.

Karena, Aku Begitu Merindukan Surga

Terkisah seorang sahabat yang tengah menjenguk sahabat wanitanya. Sang sahabat tengah menderita penyakit parah sehingga membuatnya terbaring sakit bertahun- tahun. Tidak terhitung sudah, berapa banyak biaya dan usaha yang telah dilakukannya untuk berobat. Namun Allah belum menghendaki kesembuhan atasnya.

Disebuah kamar sempit itu, terjadilah perbincangan yang sangat menarik. Satu hal yang menjadi penasaran sang sahabat, adalah ketika melihat raut wajah sahabatnya yang sama sekali tiada tampak kekhawatiran di wajah sahabatnya yang sedang sakit itu. Dengan penuh kehati- hatian dia bertanya, bagaimana bisa kau sangat bersabar atas musibah yang menimpamu kali ini? dan bukankah ini sudah bertahun- tahun lamanya?

Sang sahabat yang tengah terbaring sakit itu tersenyum, dan menjawab…
Aku pernah membaca sebuah kisah, tentang seorang wanita di jaman Rasulullah. Wanita yang sangat sholihah, dan begitu merindukan syurga. Ibnu Abbas pernah berkata bahwa beliau ingin menunjukkan seorang wanita penghuni syurga kepada Atha bin Abi Rabah. Wanita itu bukanlah wanita cantik, atau dari kalangan terhormat, melainkan hanya seorang wanita hitam.

Suatu hari wanita itu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disana dia berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap, di saat penyakitku kambuh. Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu. Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar. Lalu dia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap. Maka Nabi pun mendoakannya.”.

Sambil terbaring ditempat tidurnya, wanita sahabatnya itu lalu berkata”Lalu apakah menurutmu aku juga tidak ingin mendapatkan surga seperti wanita itu?”

Dan Allahpun berfirman bahwa “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, di dalam Al quran surat Al baqarah, ayat 153. Bagaimana pendapatmu jika kau mendapati Allah telah bersedia menjadi teman sejatimu, yang berarti itu adalah lebih baik dari pada kau miliki langit dan bumi ini, dan atau semua teman yang terbaik yang pernah ada dan pernah kau miliki?

Dengan tetap tersenyum, diapun melanjutkan…
Aku akan tetap bertahan dalam kesabaranku, karena aku begitu merindukan syurga. Apakah kau aku tahu tentang betapa indahnya surga? aku mendengar bahwa jika seseorang telah melihatnya, maka dia akan dapat melupakan semua kesengsaraannya di dunia. Dan ya, siapa lagi yang lebih bisa aku percaya dan aku pegang janjinya selain tuhanku sendiri. Maka dari itu tak apalah jika aku harus sakit di dunia ini, aku yakin ini hanya sebentar. Saat aku nanti sembuh, maka pelajaran atas sabar dan bersyukur insyaAllah akan selalu melekat di hatiku. Tapi jika Allah berkehendak bahwa hidpku hanya sampai disini saja, maka paling tidak dengan yang aku lakukan ini, bisa menjadi sedikit harapanku untuk nanti aku mendapatkan syurga, keindahan, dan kesehatan yang abadi kelak, di sana. InsyaAllah

Sang sahabat seakan tidak percaya dan hanya tertegun mendengarnya. Ini bukanlah tentang cerita pengantar tidur, ataupun dongeng yang enak di dengar telinga. Namun, ini adalah sebuah nasehat yang datang dari sebuah hati yang kecintaannya begitu besar terhadap Allah, dan kerinduan yang sangat Atas Syurga. Dan Kedamaian kata- kata itu bukan berasal dari orang yang segar bugar, namun justru berasal dari manusia yang sedang berkesusahan. Dalam hati sang sahabat lalu berdoa, semoga Allah juga menganugrahkan hati yang begitu sabar dan pikiran positif yang sangat kuat atas apapun takdir yang diberikan oleh Allah atasnya.

Hijabku Tanda Taatku Kepada Allah

“Diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqas dari bapaknya, dari Rasulullah saw. : Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu” (HR. Tirmizi)”

Setiap hari kita sering melihat di jalan atau tempat umum bahkan di jejaring social, dengan baju dan kerudungnya yang indah dan berwarna-warni. Senang melihatnya, aku rasa itu karena setiap manusia diciptakan Allah dengan Naluri yang ingin diwujudkan. Nafsu untuk berkuasa, ingin menjadi kaya, memiliki barang-barang bagus merupakan contoh survival instinct.

Allah sungguh yang Maha Pengasih dan Penyayang, selain diberi naluri yang sangat ingin diwujudkan, Allah juga memberi seperangkat aturan guna mewujudkan keinginan.

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. an-Nûr [24]: 51-52).

Tentang jilbab dan kerudung pun Allah telah mengajarkan pada kita. Bagaimana kita seorang muslim berpakaian yang disukai oleh Allah dan tentu saja mengandung banyak kebaikan insya Allah.

AURAT PEREMPUAN
Wahai Asma: Sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini…” (wajah dan telapak tangan) [HR. Abu Dawud, no. 3580]

KERUDUNG

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya” (QS an-Nur [24]: 31)

JILBAB
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak perempuanmu dan istri-istri orang Mukmin:
Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka(TQS al-Ahzab [33]: 59)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa jilbab adalah pakaian rangkap selain kerudung serupa baju kurung sekarang,
Ibnu Hazm berkata: “Jilbab dalam bahasa Arab yang dinyatakan oleh Nabi SAW ialah, busana yang menutupi seluruh badan dan tidak hanya sebagiannya.”
Ibnu Abbas dalam tafsirnya (hal. 137), menyatakan Jilbab adalah kain penutup/ baju luar/ mantel yang menutupi seluruh tubuh wanita.
Dalam Kamus Al-Muhith, Jilbab laksana sirdab (terowongan), sinmar (lorong), yakni baju/pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung/ pakaian apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya.
Al-Qurthubi dalam tafsirnya, menyatakan Jilbab adalah ar-radau, yaitu terowongan (pakaian yang lurus tanpa potongan yang menutupi seluruh badan).

Ketika diturunkan firmanNya, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, maka kaum perempuan Anshor keluar seakan-akan dari atas kepala mereka terdapat burung gagak, karena tertutup selimut.” (HR. Abu Dawud)

SEHARUSNYA JILBAB
Panjang nya

Ibnu Umar meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang memanjangkan atau mengulurkan pakaiannya supaya diperhatikan orang, Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Ummu Salamah berkata: “Lalu bagaimana halnya dengan wanita-wanita yang pakaiannya terurai panjang?” Nabi SAW bersabda: “Supaya diturunkan atau dipanjangkan satu jengkal . Ummu Salamah berkata: “Kalau demikian kaki mereka akan terbuka”. Nabi bersabda: “Supaya diturunkan kembali satu hasta jangan lebih.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Tidak tipis dan ketat

Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa Asma binti Abu Bakar ra. masuk ke dalam rumah Nabi saw. dengan memakai pakaian tipis, lalu Nabi berpaling darinya seraya bersabda: “Hai Asma, sesungguhnya wanita itu apabila telah mencapai usia baligh tidak boleh menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini” (seraya mengisyaratkan kepada muka dan kedua telapak tangannya) (HR Abu Dawud)

Nasehat Indah Untuk Wanita

Anjuran Berwasiat Kepada Calon Isteri
Anas mengatakan bahwasanya para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mempersembahkan (menikahkan) anak perempuan kepada calon suaminya, mereka memerintahkan kepadanya untuk berkhidmat kepada suami dan senantiasa menjaga hak suami.

Pesan Bapak Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan
Abdullah bin Jafar bin Abu Thalib mewasiatkan anak perempuannya, seraya berkata, “Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu adalah kunci jatuhnya thalak. Juga jauhilah olehmu banyak mengeluh, karena keluh kesah menimbulkan kemarahan, dan hendaklah kamu memakai celak mata karena itu adalah perhiasan yang paling indah dan wewangian yang paling harum”.

Pesan Ibu Kepada Anak Perempuannya
Diriwayatkan bahwa Asma binti Kharijah Al-Farzari berpesan kepada anak perempuannya disaat pernikahannya, “Sesungguhnya engkau telah keluar dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan yang tidak engkau ketahui, juga menuju teman yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh karena itu jadilah engkau sebagai bumi baginya, maka dia akan menjadi langit untukmu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya ia akan menjadi tiang untukmu. Jadilah engkau hamba sahaya baginya, maka niscaya ia akan menjadi hamba untukmu. Janganlah engkau meremehkannya, karena niscaya dia akan membencimu dan janganlah menjauh darinya karena dia akan melupakanmu. Jika dia mendekat kepadamu maka dekatkanlah dirimu, dan jika dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya, dan matanya. Janganlah ia mencium sesuatu darimu kecuali wewangian dan janganlah ia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik. [1]

Pesan Amamah binti Harits Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan.
Amamah bin Harits berpesan kepda anak perempuannya tatkala membawanya kepada calon suaminya, “Wahai anak perempuanku! Bahwasanya jika wasiat ditinggalkan karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Akan tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Wahai anak perempuanku! Jika seorang perempuan merasa cukup terhadap suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku adalah orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Akan tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-lakai diciptakan untuk perempuan. Oleh karena itu, wahai anak perempuanku! Jagalah sepuluh perkara ini.

Pertama dan kedua : Perlakuan dengan sifat qanaah dan muasyarah melalui perhatian yang baik dan taat, karena pada qanaah terdapat kebahagiaan qalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Tuhan.

Ketiga dan keempat : Buatlah janji dihadapannya dan beritrospeksilah dihadapannya. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali wewangian.

Kelima dan keenam : Perhatikanlah waktu makan dan tenangkanlah ia tatkala tidur, karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur menjengkelkan.

Ketujuh dan kedelapan : Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan kekuasaan dalam harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam keluarga artinya perlakuan yang baik.

Kesembilan dan kesepuluh : Jangan engkau sebarluaskan rahasianya, serta jangan engkau langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan rahasianya berarti engkau tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau merobek dadanya. [2]

Bahwasanya keagungan baginya yang paling besar adalah kemuliaan yang engkau persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar baginya adalah perlakuanmu yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak merasakan hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya terhadap keinginanmu dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik terhadap hal yang engkau sukai atau yang engkau benci). Jauhilah menampakkan kebahagiaan dihadapannya jika ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

Tatkala Ibnu Al-Ahwash membawa anak perempuannya kepada amirul mukminin Ustman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, dan orang tuanya telah memberinya nasihat, Ustman berkata, “Pondasi mana saja, bahwasanya engkau mengutamakan perempuan dari suku Quraisy, karena mereka adalah perempuan yang paling pandai memakai wewangian daripada engkau. Oleh karena itu perliharalah dua perkataan : Nikahlah dan pakailah wewangian dengan menggunakan air hingga wangimu seperti bau yang ditimpa air hujan.

Ummu Muashirah menasihati anak perempuannya dengan nasihat sebagai berikut (sungguh aku membuatnya tersenyum bercampur sedih): Wahai anakku.. engkau menerima untuk menempuh hidup baru… kehidupan yang mana ibu dan bapakmu tidak mempunyai tempat di dalamnya, atau salah seorang dari saudaramu. Dalam kehidupan tersebut engkau menjadi teman bagi suamimu, yang tidak menginginkan seorangpun ikut campur dalam urusanmu, bahkan juga daging darahmu. Jadilah istri untuknya wahai anakku, dan jadilah ibu untuknya. Kemudian jadikanlah ia merasakan bahwa engkau adalah segala-galanya dalam kehidupannya, dan segala-galanya di dunia.

Ingatlah selalu bahwasanaya laki-laki anak-anak atau dewasa memiliki kata-kata manis yang lebih sedikit, yang dapat membahagiankannya. Janganlah engkau membuatnya berperasaan bahwa dia menikahimu menyebabkanmu merasa jauh dari keluarga dan sanak kerabatmu. Sesungguhnya perasaan ini sama dengan yang ia rasakan, karena dia juga meninggalkan rumah orang tuanya, dan keluarga karena dirimu. Tetapi perbedaan antara dia dan kamu adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan perempuan selalu rindu kepada keluarga dan tempat ia dilahirkan, berkembang, besar dan menimba ilmu pengetahuan. Akan tetapi sebagai seorang isteri ia harus kembali kepada kehidupan baru. Dia harus membangun hidupnya bersama laki-laki yang menjadi suami dan perlindungannya, serta bapak dari anak-anaknya. Inilah duaniamu yang baru.

Wahai anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi dan inilah masa depanmu. Inilah keluargamu, dimana engkau dan suamimu bekerja sama dalam mengarungi bahtera rumah tannga. Adapun bapakmu, itu dulu. Sesungguhnya aku tidak memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu dan sanak saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selamanya wahai buah hatiku. Bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya. Akan tetapi aku memintamu untuk mencintai suamimu dan hidup bersamanya, dan engkau bahagia dengan kehidupan berumu bersamanya.

Seorang perempuan berwasiat kepada anak perempuannya, seraya berkata, “Wahai anakku, jangan kamu lupa dengan kebersihan badanmu, karena kebersihan badanmu menambah kecintaan suamimu padamu. Kebersihan rumahmu dapat melapangkan dadamu, memperbaiki hubunganmu, menyinari wajahmu sehingga menjadikanmu selalu cantik, dicintai, serta dimuliakan di sisi suamimu. Selain itu disenangi keluargamu, kerabatmu, para tamu, dan setiap orang yang melihat kebersihan badan dan rumah akan merasakan ketentraman dan kesenangan jiwa”.

5 Adab Wajib Bagi Kaum Wanita

Sebagaimana dimaklumi bahwa kaum wanita berkedudukan sama dengan kaum laki-laki dalam hal menjalankan syariat Alloh azza wajalla. Hal tersebut karena kaum wanita adalah syaqoiq(saudara kandung)nya kaum pria. Sehingga seluruh syariat Alloh yang dijelaskan di dalam al-Quran maupun as-Sunnah wajib ditunaikan perintah-perintahnya dan wajib ditinggalkan larangan-larangannya oleh dua jenis manusia tersebut. Kecuali bila memang ada syariat tertentu yang dikhususkan oleh Alloh atau oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bagi setiap jenis tersebut secara tersendiri.

Dalam kajian kita kali ini akan diuraikan beberapa perintah serta larangan dalam al-Quran yang khusus bagi kaum wanita. Dan perlu diingat bahwa yang akan diuraikan di sini bukan keseluruhan perintah maupun larangan yang terdapat di dalam al-Quran, namun hanya sebagiannya saja. Semoga yang hanya sebagian ini banyak bermanfaat bagi saudari-saudari kita kaum wanita muslimah. Amin.

1. Perintah menutup perhiasan dan larangan menampakkannya kepada kaum laki-laki.
Dalam hal ini Alloh azza wajalla berfirman:
… dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…. (QS. an-Nur [24]: 31)

Maksud dari perhiasan yang harus ditutupi di dalam ayat ini secara umum mencakup pakaian luar yang dihiasi dengan hiasan-hiasan yang menarik pandangan mata kaum laki-laki, bukan hanya perhiasan secara khusus seperti anting-anting, gelang tangan, gelang kaki, kalung cincin, atau yang semisalnya.

Syaikh Abdur Rohman bin Nashir as-Sadi rahimahullahu taala menjelaskan tentang firman Alloh subhanahu wataala: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya”, perhiasan yang dimaksud ialah seperti pakaian yang indah, perhiasan-perhiasan, serta seluruh badan, semuanya termasuk perhiasan (dalam ayat ini).[1]

Adapun laki-laki yang boleh melihat perhiasan seorang wanita, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, ada dua belas golongan saja, yaitu ayahnya, suaminya, mertuanya, putra-putranya, putra-putra suaminya, saudara-saudaranya, putra-putra saudaranya, putra-putra saudarinya, sesama kaum muslimah, budak-budaknya, pelayan laki-laki yang tidak bersyahwat terhadap wanita, dan anak-anak kecil yang belum mengerti tentang aurat wanita.

2. Perintah berkerudung dan larangan membuka kepala serta dada.
Kaum wanita muslimah diwajibkan berkerudung dan dilarang membuka kepala serta dadanya di hadapan laki-laki. Hal ini juga berarti dilarang menampakkan rambut, telinga serta lehernya di hadapan mereka. Berdasarkan firman Alloh Taala, sebagaimana pada potongan ayat di atas:

… dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…. (QS. an-Nur [24]: 31)
Perintah berkerudung dengan menjuntaikannya sampai ke dada adalah demi sempurnanya apa yang dilakukan oleh para wanita saat menutupi perhiasannya. Hal ini menunjukkan bahwa perhiasan yang haram ditampakkan memang mencakup seluruh badan sebagaimana yang telah disebutkan.[2]

Kerudung ialah kain yang dipakai untuk menutup kepala yang menjuntai sampai menutupi dada sehingga tidak ada bagian kepala dan dada, termasuk rambut, yang terlihat sedikit pun. Kerudung semacam ini diperintahkan untuk dikenakan dari atas kepala menjuntai sampai menutupi dada kaum wanita agar mereka menutupi apa yang ada di baliknya, yaitu dada dan payudaranya. Hal ini supaya mereka bisa menyelisihi tren gaya kaum wanita masa jahiliyah yang mana mereka tidak menutup kepala dan leher serta dadanya. Malahan wanita jahiliyah itu biasa berjalan di antara laki-laki dalam keadaan dadanya terbuka dan tidak menutupinya sedikit pun sehingga terlihatlah leher, ujung rambut serta anting-anting yang ada di kupingnya. Oleh sebab itulah Alloh azza wajalla memerintahkan kaum mukminat agar menutupinya sesuai bentuk serta keadaannya yang sempurna.[3]

3. Dilarang menyuarakan kaki ketika berjalan.
Masih berkaitan dengan kesempurnaan apa yang dilakukan oleh kaum mukminat dalam menutup perhiasannya, yaitu apa yang disebutkan oleh Alloh azza wajalla dalam kelanjutan ayat di atas sebagai berikut:

…dan janganlah mereka (para wanita) itu memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan…. (QS. an-Nur [24]: 31)

Ibnu Katsir rahimahullahu taala mengatakan tentang ayat di atas: “Di masa jahiliyah dahulu apabila para wanita berjalan di jalan-jalan sedangkan mereka mengenakan gelang kaki tetapi tidak bersuara (suaranya tidak didengar) maka mereka pun menghentakkan kaki mereka ke tanah sehingga kaum laki-laki pun mengetahui bunyi gemerincingnya. Lalu Alloh pun melarang kaum mukminat dari perbuatan tersebut. Yang termasuk larangan seperti itu juga ialah apabila ada suatu perhiasannya yang tertutup lalu ia menggerak-gerakkannya dengan gerakan tertentu dengan tujuan menampakkan sesuatu yang tersembunyi di dalamnya, maka itu masuk dalam larangan ini berdasarkan ayat ini. Demikian juga para mukminat dilarang dari berharum-harum dengan parfum tatkala keluar rumah dengan tujuan agar kaum laki-laki mencium baunya.”[4]

4. Perintah berjilbab
Dalam hal ini Alloh azza wajalla berfirman:
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Ahzab [33]: 59)

Berjilbab bukan kewajiban para istri Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam saja, tidak juga hanya kewajiban wanita-wanita Arab, sebagaimana sangkaan sebagian kaum muslimin. Namun, jelas dari ayat di atas dipahami bahwa berjilbab merupakan kewajiban seluruh wanita beriman, baik istri Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam, anak-anak perempuan beliau maupun para wanita beriman manapun. Hanya saja Alloh Taala memerintahkan hal itu melalui lisan Rosul-Nya.

Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada. Syaikh Abdurrohman as-Sadi rahimahullahu taala tatkala menjelaskan makna firman Alloh (yang artinya) “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”, beliau mengatakan: (Jilbab itu) berupa (pakaian) yang dikenakan di atas pakaian, yaitu berupa selimut luas atau semacam mantel, kerudung, selendang dan semisalnya. Maknanya, hendaknya mereka menutup wajah-wajah serta dada-dada mereka dengannya.”[5]

5. Perintah menetap di rumah dan larangan memamerkan kecantikan serta keindahan diri.

Berbicara tentang wanita maka tidak lepas dari membicarakan kecantikan dan keelokan tubuhnya. Kecantikan dan keelokan tubuhnya memang memiliki peranan yang kuat dalam menarik laki-laki yang ingin hidup bersamanya. Oleh sebab itulah Islam mengajarkan agar laki-laki yang hendak menikahi seorang wanita untuk melihat dahulu wanita tersebut. Hal ini untuk diketahui keelokan dan kecantikan parasnya agar bisa melanggengkan kehidupan berkeluarganya kelak. Namun, kecantikan dan keelokan wanita tidak boleh diperlihatkan seenaknya begitu saja buat siapa saja. Seorang wanita hendaknya memelihara diri dari menjadi penggoda kaum laki-laki. Dan agar kerusakan moral serta agama seseorang bisa terpelihara, maka Islam memerintahkan wanitanya untuk menetapi rumahnya dan tidak boleh memamerkan keelokan serta kecantikannya. Alloh azza wajalla berfirman:

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Alloh dan Rosul-Nya. Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. al-Ahzab [33]: 33)

Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sadi rahimahullahu taala mengatakan tentang makna ayat tersebut: “Artinya, menetaplah kalian di rumah kalian sebab hal itu lebih selamat dan lebih memelihara diri kalian”. Beliau melanjutkan makna kelanjutan ayat tersebut: “Artinya, janganlah banyak keluar dengan bersolek atau memamerkan semerbak harum kalian sebagaimana kebiasaan ahli jahiliyah yang dahulu yang tidak tahu ilmu dan norma agama. Semua ini demi mencegah munculnya kejahatan dan sebab-sebabnya.”[6]

Ibnu Katsir rahimahullahu taala mengatakan: “Artinya, tetaplah di rumah-rumah kalian dan jangan keluar tanpa hajat (keperluan). Termasuk hajat-hajat syari yang membolehkan wanita keluar rumah ialah sholat di masjid dengan persyaratannya, sebagaimana sabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah kalian mencegah istri-istri dan putri-putri kalian dari masjid Alloh. Namun hendaklah mereka keluar dalam keadaan berjilbab”. Dan dalam riwayat lain disebutkan: “Dan rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka”.[7]

Adapun yang termasuk dalam hukum firman Alloh subhanahu wataala yang artinya: …dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu”, antara lain:

  1. Keluar rumah dan berjalan di antara kaum laki-laki.
  2. Keluar rumah dan berjalan berlenggak-lenggok, berlagak genit menggoda.
  3. Tabarruj ialah mengenakan kerudung di atas kepala dengan tidak merapikannya agar bisa menutupi kalung, anting-anting serta lehernya, tapi semuanya justru nampak dan kelihatan. Itulah tabarruj jahiliyah. Namun akhirnya tabarruj semacam ini meluas dan dilakukan juga oleh kaum mukminat.

Dan hukum dalam ayat ini tidak hanya bagi para istri dan anak-anak perempuan beliau saja, namun berlaku juga bagi kaum mukminat seluruhnya. Ibnu Katsir rahimahullahu taala dalam kitab tafsirnya tatkala menafsirkan ayat di atas mengatakan: “Semua ini merupakan adab dan tata krama yang Alloh subhanahu wataala perintahkan kepada para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun kaum wanita umat ini seluruhnya menyertai mereka juga dalam hukumnya dalam masalah ini.”

Sifat Wanita Dalam Al-Quran

Ketika memasuki sebuah showroom, butik atau toko yang menjual pakaian wanita, kita akan mendapatkan pakaian dalam berbagai bentuk, corak dan ragamnya. Mau pilih yang mana? Semuanya terserah kita. Sebab kita sendiri yang akan memakainya. Kita pula yang akan menerima konsekuensi dari memakai pakaian tersebut.

Pakaian dapat kita analogikan dengan kepribadian. Seperti halnya pakaian, kepribadian wanita pun memiliki beragam jenis dan corak. Kita diberi kebebasan untuk memilih sifat mana saja yang paling disukainya. Namun ingat, dalam setiap pilihan ada tanggung jawab yang harus dipikul. Karena itu, agar tidak menyesal dikemudian hari, Alquran memberi tuntunan kepada orang-orang beriman (khususnya Muslimah) agar tidak salah dalam memilih kepribadian.

Lima sifat wanita

Setidaknya ada lima sifat wanita dalam Alquran.
Pertama, sifat pejuang. Wanita sifat pejuang memiliki kepribadian kuat. Ia berani menanggung risiko apa pun saat keimanannya diusik dan kehormatannya dilecehkan. sifat ini diwakili oleh Siti Asiyah binti Mazahim, istri Firaun. Walau berada dalam cengkraman Firaun, Asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang Muslimah. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan Firaun. Allah SWT mengabadikan doanya, Dan Allah menjadikan perempuan Firaun teladan bagi orang-orang beriman, dan ia berdoa, Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim (QS At Tahriim [66]: 11).

Kedua, sifat wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya. sifat ini diwakili Maryam binti Imran. Hari-harinya ia isi dengan ketaatan kepada Allah. Ia pun sangat konsisten menjaga kesucian dirinya. Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina! .

Demikian ungkap Maryam (QS Maryam [19]: 20). Karena keutamaan inilah, Allah SWT mengabadikan namanya sebagai nama salah satu surat dalam Alquran (QS Maryam [19]). Maryam pun diamanahi untuk mengasuh dan membesarkan Kekasih Allah, Isa putra Maryam (QS Maryam [19]: 16-34). Allah SWT memuliakan Maryam bukan karena kecantikannya, namun karena keshalihan dan kesuciannya.

Ketiga, sifat penghasut, tukang fitnah dan biang gosip. sifat ini diwakili Hindun, istrinya Abu Lahab. Alquran menjulukinya sebagai “pembawa kayu bakar” alias penyebar fitnah. Dalam istilah sekarang wanita penyiram bensin. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. demikian pula istrinya, pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut (QS Al Lahab [111]: 1-5).

Bersama suaminya, Hindun bahu membahu menentang dakwah Rasulullah SAW, menyebar fitnah dan melakukan kezaliman. Isu yang awalnya biasa, menjadi luar biasa ketika diucapkan Hindun.

Keempat, sifat wanita penggoda. sifat ini diperankan Zulaikha saat menggoda Nabi Yusuf. Petualangan Zulaikha diungkapkan dalam Alquran, Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, Marilah ke sini. Yusuf berkata, Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung (QS Yusuf [12]: 23).

Kelima, sifat wanita pengkhianat dan ingkar terhadap suaminya. Allah SWT memuji wanita yang tidak taat kepada suaminya yang zalim, seperti dilakukan perempuan Firaun (QS At Tahriim [66]: 11). Namun, pada saat bersamaan Allah pun mengecam perempuan yang bekhianat kepada suaminya (yang saleh). Istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth mewakili sifat ini. Saat suaminya memperjuangkan kebenaran, mereka malah menjadi pengkhianat dakwah.

Difirmankan, Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). (QS At Tahriim [66]: 10).

Wanita-wanita yang dikisahkan Alquran ini hidup ribuan tahun lalu. Namun karakteristik dan sifatnya tetap abadi sampai sekarang. Ada sifat pejuang yang kokoh keimanannya. Ada wanita salehah yang tangguh dalam ibadah dan konsisten menjaga kesucian diri. Ada pula sifat penghasut, penggoda dan pengkhianat. Terserah kita mau pilih yang mana. Bila memilih sifat pertama dan kedua, maka kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan. Sedangkan bila memilih tiga sifat terakhir, kehinaan di dunia dan kesengsaraan akhiratlah akan kita rasakan. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (QS An Nuur [24]: 34). Wallaahu alam.

Pengakuan Nakata Khaula (Bag 2)

Dua pekan sesudah saya kembali ke pangkuan Islam, saya pulang ke Jepang untuk menghadiri pernikahan keluarga. Setelah itu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikan di Sastra Perancis yang telah kehilangan daya tariknya. Sebagai gantinya, saya memilih kajian Arab dan Islam.

Sebagai seorang Muslimah yang baru dengan pemahaman Islam yang belum banyak, tinggal di kota kecil di Jepang dan jauh dari lingkungan Islam membuat saya merasa terisolasi. Namun, keterisolasian itu semakin menguatkan keislaman saya tahu saya tidak sendiri karena Allah SWT senantiasa menemani. Saya harus membuang semua pakaian saya dan, berkat bantuan beberapa teman, saya membuat patokan sendiri yang mirip pakaian orang Pakistan. Saya tidka merasa terganggu dengan pandangan orang yang tertuju kepada saya!

Sesudah enam bulan berada di Jepang, hasrat untuk mempelajari segala hal tentang Arab tumbuh begitu besar hingga saya memutuskan untuk pergi ke Kairo, Mesir, karena di sana saya punya seorang kenalan. Saya tinggal di rumah keluarga teman saya. Namun, tidak seorang pun keluarga teman saya itu dapat berbahasa Inggris (apalagi Jepang!). Seorang wanita menjabat tangan saya dan mengajak saya masuk ke dalam rumahnya. Ia memakai jubah hitam yang menutupi dirinya dari kepala hingga ujung jari. Bahkan, wajahnya pun tertutup. Meski di Riyadh saya telah terbiasa dengan hal itu, saya ingat saat itu saya terkejut.

Apalagi, saya teringat dengan kasus jilbab di Prancis. Saat itu, saya memandang perempuan dalam jubah sebagai,” perempuan yang diperbudak budaya Arab karena tidak tahu Islam” (kini saya tahu menutup wajah bukan kewajiban dalam ajaran Islam, melainkan sebagai tradisi etnis semata).

Saya ingin mengatakan kepada wanita Kairo itu bahwa ia telah berlebihan dalam berpakaian sehingga tampak tidak alami dan tidak lazim. Namun, saya justru diingatkan wanita itu bahwa jilbab buatan saya sendiri tidak cocok digunakan di luar rumah-sesuatu yang tidak saya setujui sebelumnya karena saya merasa sudah memenuhi tuntutan jilbab bagi Muslimah.

Saya pun membeli beberapa bahan baju dan membuat pakaian wanita dalam ukuran yang lebih panjang, disebut juga khimar, yang menutup sempurna bagian pinggul ke bawah dan tangan. Saya bahkan siap menutup wajah saya, sesuatu yang dipakai sebagian besar saudara Islam saya. Meski demikian, mereka tetaplah minoritas di Kairo.

Secara umum, pemuda Mesir yang sedkit atau banyak terpengaruh budaya Barat masih menjaga jarak dengan perempuan yang memakai khimar dan memanggil mereka dengan sebutan ukhti. Laki-laki Mesir memperlakukan kami dengan penuh hormat dan sopan. Oleh karena itu, perempuan yang memakai khimar saling menjalin persaudaraan sehingga mereka turut menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW-seorang Muslim hendaknya memberi salaam kepada Muslim lain yang ditemui di jalan, dikenal atau tidak dikenalnya.

Persaudaraan mereka yang lebih tepat untuk ditekankan itu didasari keimanan kepada Alloh SWT dibandingkan perempuan yang hanya memakai kerudung sebagai bagian dari bagian dari budaya dan bukan bagian dari keimanan. Sebelum berpaling ke pangkuan Islam, saya sangat senang memakai pakaian dengan model celana yang memungkinkan saya bergerak aktif meskipun bukan rok feminine. Namun, long dress yang biasa saya pakai di Kairo cukup nyaman bagi saya. Saya merasa anggun dan lebih santai.

Dalam budaya Barat, warna hitam adalah warna favorit untuk acara malam karena menguatkan kecantikan pemakainya. Saudara-saudara baru saya yang di Kairo pun tampak sangat cantik dengan khimar hitam mereka dan sangat menunjang cahaya ketakwaan yang terpancar dari wajah-wajah mereka (meski begitu, mereka sangat berbeda dengan suster Katholik Roma yang dulu menjadi eprhatian utama ketika saya berkesempatan mengunjungi Paris tidak berapa lama sesudah saya tinggal di Riyadh, Arab Saudi).

Saat itu, saya berada dalam satu metro (trem dalam kota) dengan suster-suster itu dan saya tersenyum karena keserupaan pakaian kami. Pakaian yang dipakai suster itu merupakan tanda ketakwaan mereka kepada tuhan seperti halnya Muslimah. Saya etrkadang merasa aneh dengan orang-orang yang tidak banyak mengkritik jubah yang dipakai suster Katholik Roma, tetapi mereka mengkritik dengan tajam jilbab yang dipakai Muslimah, terlepas dari pandangan bahwa keduanya dianggap melambangkan terorisme dan tekanan. Namun, saya tidak bermaksud mengabaikan jilbab dengan warna yang lebih cerah selain hitam karena pada kenyataannya sejak dulu saya bekeinginan memakai pakaian dengan gaya yang relijius seperti suster Katholik Roma jauh sebelum saya berpaling ke pangkuan Islam!

Meski demikian, saya menolak orang yang menganjurkan saya tetap memakai khimar sekembalinya saya ke Jepang. Saya akan marah kepada setiap Muslimah yang tidak begitu menyadari pentingnya ajaran Islam : sepanjang kita sudah menutup diri kita sesuai tuntunan syariat, kita boleh memakainya sesuai model yang kita inginkan. Apalagi, setiap budaya memiliki cirinya sendiri-sendiri sehingga pemakaian khimar hitam di Jepang hanya akan membuat orang berpikir saya orang gila dan mereka akan emnolak Islam jauh sebelum saya mengenalkan Islam dengan baik kepada mereka. Perdebatan kami biasanya seputar masalah itu.

Sesudah tinggal selama enam bulan di Kairo, saya sudah terbiasa dengan pakaian long dress sehingga saya mulia berpikir untuk tetap memakainya meskipun di Jepang. Komprominya, saya akan membuat khimar dengan aneka warna yang cerah atau putih dengan harapan orang Jepang tidak akan terlalu kaget dengan hal itu daripada saya hanya memakai khimar warna hitam. Ternyata saya betul. Reaksi orang Jepang lebih baik dengan khimar putih dan mereka lebih cenderung menduga saya sebagai yang relijius. Saya mendengar seorang gadis Jepang yang berkata kepada temannya bahwa saya seorang suster Buddha : betapa miripnya antara Muslimah, suster Buddha, dan suster Katholik Roma!

Sekali waktu di dalam sebuah kereta, orang tua yang berada dis ebelah saya menanyakan alasan saya memakai baju yang tidak biasa dipakai banyak orang. Ketika saya jelaskan bahwa saya seorang Muslimah dan Islam mengajarkan kepada perempuan agar menutup tubuh mereka supaya terlindung secara fisik maupun psikis, orang tua itu tampaknya sangat tertarik. Saat ia turun dari kereta, ia berterima kasih dan mengatakan bahwa ia ingin sekali berbicara banyak tentang Islam dengan saya.

Dalam waktu sekejap, ternyata jilbab menjadi factor yang dominant dalam memancing keingintahuan orang tentang Islam. Apalagi, orang Jepang bukanlah orang yang lazim berbicara banyak tentang agama. Sama seperti di Kairo, jilbab berperan sebagai tanda diantara sesama Muslimah, di Jepang pun hal yang sama saya lakukan.

Pernah suatu kali ketika dalam suatu perjalanan, saya berkeliling dan bertanya-tanya benarkah rute yang saya ambil ini. Pada saat itu, saya melihat sekelompok perempuan memakai jilbab. Saya pun mendekati mereka dan kami bersalaman satu sama lain.

Namun, ayah saya cemas ketika saya pertama kembali ke Jepang dengan menggunakan pakaian lengan panjang dan kepala tertutup rapat, padahal cuaca sedang panas meskipun saya sendiri merasa bahwa jilbab justru melindungi saya dari sinar matahari. Saya sendiri justru merasa tidak nyaman melihat adik eprempuan saya hanya memakai celana pendek sehingga tampak paha dan kakinya. Saya sering malu-bahkan sebelum saya kembali ke pangkuan Islam-terhadap perempuan yang memperlihatkan pantat dan pinggul mereka dengan pakaian yang ketat dan tipis.

Saya merasa seperti melihat sesuatu yang seharusnya tersembunyi. Jika pemandangan seperti itu saja membuat saya malu sebagai perempuan, saya tidak dapat membayangkan dampaknya jika dilihat laki-laki. Oleh karena itu, Islam memerintahkan manusia berpakaian sopan dan tidak telanjang di ruang public meskipun di ruangan khusus perempuan atau laki-laki.

Jelaslah, penerimaan sesuatu yang telanjang dalam suatu masyarakat berbeda-beda menurut pemahaman masyarakat atau individunya. Misalnya, di Jepang limapuluh tahun yang lalu, berenang dengan memakai baju renang yang setengah tertutup sudah dianggap vulgar, tetapi sekarang bikin sudah dianggap biasa. Namun, jika ada perempuan berenang dengan baju renang topless, ia dianggap tidak punya malu.

Lain halnya jika topless di pantai selatan Prancis yang sudah dianggap biasa. Begitu pun di beberapa pantai di Amerika Serikat. Kaum nudis sudah berani bertelanjang ria seolah-olah mereka baru dilahirkan. Jika kaum nudis ditanya tentang perempuan liberal yang menolak jilbab-mengapa mereka masih menutupi pantat dan pinggul mereka padahal keduanya sama alamiahnya dengan wajah dan tangan-apakah perempuan liberal mau memberikan jawaban yang jujur? Definisi tentang bagia tubuh perempuan yang harus tetap pribadi ternyata sangat bergantung pada fantasi dan ksesenangan laki-laki di sekitar mereka yang mengaku-ngaku sebagai feminis. Namun di dalam Islam, kita tidak akan menemui masalah semacam itu karena Alloh SWT telah menetapkan definisi tentang bagian tubuh perempuan dan laki-laki yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan di ruang public. Kita pun patuh dan mengikutinya.

Jika saya melihat cara berpakaian manusia sekarang (telanjang atau hampir telanjang), buang air sembarangan, atau bercintaan di tempat umum, saya cenderung memandang mereka seperti makhluk yang tidak punya malu sehingga menjatuhkan martabat mereka hingga ke derajat binatang.

Di Jepang, perempuan hanya memakai make up saat keluar rumah dan sedikit sekali memperhatikan penampilan diri mereka di rumah sendiri. Padahal, Islam mengajarkan perempuan agar selalu tampil cantik bagi suaminya sehingga ia akan berusaha tampil menarik pula baginya. Tentu, dengan begitu muncul keanggunan dalam hubungan antara suami isitri di dalam Islam.

Muslim sering dituduh sebagai kelompok orang yang terlalu sensitive menyangkut tubuh manusia, tetapi tingkat kejahatan seksual yang terjadi akhir-akhir ini semakin menegaskan pentingnya pakaian sopan. Orang luar mungkin melihat Islam seperti melihat Muslim yang tampak kaku. Padahal jika dilihat dari dalam, ada kedamaian, kebebasan, dan kebahagiaan yang tidak akan pernah mereka rasakan sebelumnya. Menjalankan Islam-bagi Muslim yang terlahir di tengah keluarga Muslim atau orang yang kembali ke dalam pangkuan Islam-lebih disukai daripada jalan hidup bebas yang ditawarkan sekularisme.

Pengakuan Nakata Khaula (Bag 1)

Menutupt aurat? tak pernah terlintas baginya. Maklum, ia seorang aktifis feminis. Namur wanita asal Jepang ini berubah total dan justru menemukan kedamaian setelah mengenal Islam. Baca pengakuan seorang mantan aktifis feminisme ini

Ketika saya kembali ke dalam pangkuan Islam, agama asli semua manusia, sebuah perdebatan sengit sedang terjadi di sekolah-sekolah Prancis tentang jilbab di kalangan pelajar perempuan-terutama keturunan imigran TImur-Tengah-hingga beberapa waktu lamanya (hal itu terjadi karena ada kebijakan pelarangan penggunaan jilbab dari otoritas Prancis, pen). Mayoritas pelajar berpendapat, public-dalam hal ini sekolah negeri-seharusnya bersikap netral dalam urusan agama, termasuk tentang tudung kepala (jilbab). Tidak dapat dipungkiri, kelompok Muslim di Prancis turut membayar pajak yang lumayan besar jumlahnya.

Menurut saya, pihak sekolah hendaknya menghargai keyakinan seseorang atau kelompok dalam menjalankan ajaran agamanya sepanjang orang atau kelompok itu tidak mengganggu kegiatan rutin sekolah, apalagi sampai melanggar disiplin. Namun, tampaknya pemerintah Prancis sedang menghadapi gejolak social dengan meningkatnya jumlah pengangguran. Mereka merasa kehidupan ekonomi mereka terancam dengan makin banyaknya pekerja imigran Arab. Banyaknya penggunaan jilbab di kota-kota atau di sekolah-sekolah semakin memicu perasaan mereka itu.

Pada kenyataannya, memang semakin banyak perempuan Arab imigran yang memakai jilbab, terlepas dari pandangan bahwa fenomena itu akan segera menghilang seperti halnya ketika sekularisme Barat menanamkan pengaruhnya di dunia Arab (Timur-Tengah). Ketahanan pelaksanaan ajaran Islam itu sering dianggap sebagai upaya kelompok Islam di mana saja untuk mengembalikan kebaggaan dan identitas mereka yang pernah hilang ditelan kolonialisme Barat.

Di Jepang sendiri, sikap seperti itu mungkin dianggap sama dengan sikap tradisional konservatif orang Jepang yang muncul sebagai perwujudan perasaan anti-Barat. Sesuatu yang dalam pandangan bangsa Jepang adalah serupa dengan pengalaman yang kami rasakan sejak kami berinteraksi dengan budaya Barat pada zaman Restorasi Meiji. Bangsa Jepang saat itu memunculkan sikap penentangan terhadap gaya hidup yang tidak lagi tradisional dan mengikuti model pakaian Barat. Ada kecenderungan dalam suatu masyarakat untuk bersikap konservatif terhadap segala hal yang baru tanpa mau melihat kebaikan atau keburukannya.

Perasaan seperti itu masih ada diantara kelompok non-Muslim di Prancis yang memandang bahwa penggunaan jilbab menunjukkan ketundukan para penggunanya sebagai budak budaya tradisional seolah-olah jilbab adalah ikon pengekangan. Oleh karena itu, sikap gerakan pembebasan dan pembelaan atas kaum hawa selalu terfokus pada upaya mendorong perempuan Muslim agar melepaskan jilbab-jilbab mereka sebagai tanda pembebasan itu atau mereka belum dianggap bebas sebelum jilbab-jilbab itu lepas dari kepala mereka.

Pandangan yang naïf seperti itu, bagi kelompok Muslim, menunjukkan dangkalnya pengetahuan mereka tentang Islam di dalam gerakan pembebasan perempuan. Hal ini akibat kebiasaan mencampuradukkan pandangan secular dan nilai-nilai eklektisisme agama sehingga mereka tidak mampu lagi menangkap kesempurnaan Islam sebagai agama yang universal dan abadi.

Hal itu berbeda sekali dengan kenyataan bahwa semakin banyak perempuan non-Muslim dan non-Arab dari seluruh penjuru dunia yang kembali ke pangkuan Islam. Bahkan, mereka melaksanakan kewajiban berjilbab atas kesadaran mereka sendiri dan bukan atas desakan tradisi yang dipandang berorientasi pada kekuasaan laki-laki atas perempuan (masculine-oriented).

Saya adalah salah seorang diantara perempuan non-Arab (sebelumnya non-Muslim) yang dengan penuh kesadaran memakai jilbab bukan karena bagian dari identitas kelompok atau tradisi Islam semata atau memiliki signifikansi pada kelompok social dan politik tertentu, melainkan karena jilbab adalah identitas keyakinan saya, yaitu Islam. Bagi kelompok non-Muslim, jilbab tidak hanya dianggap sebagai penutup kepala, tetapi sebagai penghalang yang menyebabkan para perempuan itu tidak punya akses ke dunia yang luas. Seolah-olah, perempuan Muslimah tercerabut dari kebebasan yang seharusnya mereka rengkuh di dunia yang sekular.

Sebelumnya, saya pernah diperingatkan tentang kemungkinan hilangnya kebebasan saya saat memutuskan untuk kembali ke pangkuan Islam. Saya diberitahu bentuk jilbab itu berbeda-beda menurut daerahnya masing-masing atau pemahaman dan kesadaran agamanya. Di Prancis, saya memakai jilbab yang sederhana-lebih tepat disebut penutup kepala-yang sesuai dengan mode dan sekedar tersampir di kepala sehingga terkesan modis.

Namun ketika saya berada di Arab Saudi, saya memakai gamis hitam yang menutupi seluruh tubuh saya, termasuk mata. Jadi,saya telah merasakan sendiri penggunaan jilbab dari model yang paling sederhana hingga model yang dianggap kebanyakan orang paling “mengekang”. Mungkin Anda bertanya, apa makna jilbab bagi saya? Meski banyak buku dan artikel tentang jilbab, hampir semuanya cenderung ditulis dari sudut pandang “orang luar” (laki-laki). Saya harap tulisan ini dapat menjelaskan makna jilbab dari sudut pandang “orang dalam” (perempuan).

Ketika saya memutuskan untuk kembali ke dalam pangkuan Islam, saya tidak berpikir tentang pelaksanaan ibadah shalat lima kali sehari atau tentang penggunaan jilbab. Barangkali saat itu saya khawatir jika saya terlalu dalam memikirkan hal itu, saya tidak akan pernah sampai pada keputusan yang tepat. Bahkan, hal itu mungkin akan mempengaruhi niat saya untuk bepaling ke Islam. Sebelum saya berkunjung ke sebuah masjid di Paris, sebetulnya saya tidak tertarik sama sekali terhadap Islam, termasuk tentang sholat dan penggunaan jilbab. Bahkan, tidak pernah terbayang sedikitpun. Namun sejak itu, keinginan saya kembali ke pangkuan Islam begitu kuat untuk dikalahkan pikiran-pikiran tentang tanggung jawab yang akan saya emban sebagai seorang Muslim, Alhamdulillah.

Saya baru mulai merasakan keuntungan dan manfaat jilbab sesudah saya mendengarkan khotbah di sebuah masjid di Paris. Bahkan saat itu, saya tetap menggunakan kerudung kepala saya saat keluar dari masjid. Khotbah itu telah menjadi sebuah keputusan spiritual tersendiri seperti pengalaman saya sebelumnya dan saya tidak ingin kepuasan itu hilang. Mungkin karena cuaca yang dingin hingga saya tidak terlalu merasakan adanya kerudung di kepala. Selain itu, saya merasa bersih, suci, dan terjaga dari kotoran dalam arti yang fisik atau psikis. Saya merasa seolah berada di dalam lindungan Allah SWT. Sebagai orang asing di Paris, terkadang saya merasa tidak nyaman dengan pandangan liar laki-laki ke arah saya. Dengan jilbab, saya merasa lebih terlindung dari pandangan liar itu.

Jilbab membuat saya bahagia sebagai wujud ketaatan dan manifestasi iman saya kepada Allah SWT. Saya tidak perlu meyakinkan diri saya lagi karena jilbab telah menjadi tanda bagi semua orang, terutama sesame Muslim, sehingga memperkuat ikatan persaudaraan Islam (Ukhuwwah Islamiyyah). Memakai jilbab sudah menjadi sesuatu yang spontan saya lakukan, bahkan dengan sukarela. Pada awalnya, saya berpikir tidak ada seorang pun yang dapat memaksa saya untuk memakai jilbab. Jika mereka memaksa, saya pasti menentang mereka. Namun, buku Islam pertama mengenai jilbab yang saya baca sangat moderat. Buku itu hanya menyebutkan, “Allah SWT sangat menekankan pemakaian jilbab.”

Oleh karena Islam-seperti yang ditunjukkan dengan makna Islam, yaitu penyerahan diri-saya pun melaksanakan kewajiban keislaman saya dengan sukarela dan tanpa merasa kesulitan. Alhamdulillah. Selain itu, jilbab mengingatkan semua manusia bahwa Tuhan itu ada dan senantiasa mengingatkan saya untuk bersikap Islami. Seperti halnya petugas polisi yang tampak lebih professional dengan seragam mereka, saya pun merasa lebih Muslimah dengan jilbab yang saya pakai.